Sumber Dokumentasi : Masjid Nusantara 

Ramadhan kali ini terasa begitu cepat berlalu. Malam itu adalah sahur terakhir sebelum Idul Fitri, dan seperti biasa, Rudi, Anton, dan Farhan punya kebiasaan unik: berburu makanan sahur di warung yang masih buka.

Udara malam terasa dingin, jalanan kampung sepi, hanya sesekali terdengar suara jangkrik dan motor yang melintas. Rudi mengendarai motornya dengan santai, sementara Anton duduk di belakang sambil menguap lebar. Farhan, yang duduk di paling belakang, mulai menggigil kedinginan.

"Kita sahur di mana, nih?" tanya Anton sambil mengusap matanya yang masih berat karena kantuk.

"Warung Bu Siti aja. Kayaknya dia masih buka," jawab Rudi yakin.

"Kalau tutup gimana?" tanya Farhan.

"Ya, kita ketuk pintunya sampai dia buka!" sahut Rudi sambil tertawa.

Mereka pun melaju menuju warung Bu Siti.

Perjuangan Mencari Sahur

Sesampainya di warung, mereka segera turun dan mendekati etalase makanan. Anton langsung berseri-seri melihat sisa-sisa makanan di balik kaca.

Rudi bertanya, "Bu, ada ayam goreng?"

Bu Siti menggeleng, "Udah abis, Nak."

Anton mencoba alternatif lain, "Telur dadar ada, Bu?"

Bu Siti kembali menggeleng, "Tinggal kulit telurnya."

Farhan mulai panik, "Waduh, minimal ada nasi nggak, Bu?"

Bu Siti tersenyum, "Tinggal nasinya aja, lauknya habis."

Rudi mendesah kecewa, "Ya ampun, ini mah sahur pake nasi doang! Macam anak kos akhir bulan."

Mereka akhirnya memesan nasi dengan kerupuk dan kecap. Saat hendak makan, tiba-tiba listrik mati!

Anton berteriak, "Astaga! Ini ujiannya makin berat aja!"

Farhan menenangkan, "Tenang, kita bisa makan pakai insting!"

Sambil meraba-raba piring dalam gelap, mereka mulai menyuap nasi ke mulut. Namun, tak lama kemudian…

Rudi mendadak berhenti mengunyah. Wajahnya tegang. "EH! Ini bukan nasi, ini kerupuk Anton!!"

Anton terkejut, "Lah, terus yang gue makan tadi apaan?"

Farhan menduga sesuatu, "Jangan-jangan…"

Mereka langsung memeriksa makanan masing-masing dengan cahaya ponsel. Anton ternyata menyuap sendok kosong ke mulutnya sejak tadi!

"Anton, lu udah makan belum sih?" tanya Rudi, menahan tawa.

Anton memeriksa piringnya dan baru sadar kalau nasinya masih utuh. "Astaga! Gue lapar, tapi mulut gue ngunyah angin!"

Mereka pun tertawa terbahak-bahak dalam gelap.

Kejaran Waktu Sahur

Namun, tawa mereka tak berlangsung lama. Waktu sahur semakin menipis. Listrik masih mati, dan adzan subuh tinggal 5 menit lagi!

Rudi panik, "GAS! MAKAN CEPAT!"

Anton memperingatkan, "AWAS SENDOKNYA KETELAN!"

Farhan ikut berteriak, "INI SAHUR APA LOMBA MAKAN?"

Mereka menghabiskan makanan secepat mungkin. Suara sendok beradu dengan piring terdengar begitu riuh. Keringat mulai mengucur meskipun udara masih dingin.

Saat suapan terakhir masuk ke mulut, adzan subuh berkumandang.

Bu Siti menyeringai, "Nah, tuh, udah subuh. Puasa kalian sah nggak tuh?"

Rudi buru-buru menjawab dengan mulut penuh nasi, "Sah, Bu! Asal kunyahannya nggak sampai Zuhur!"

Anton dan Farhan hanya bisa menggeleng-geleng melihat tingkah Rudi yang selalu punya jawaban aneh.

Makna Ramadhan: Obrolan Setelah Subuh

Setelah sholat subuh di masjid, mereka duduk di serambi, menikmati angin pagi yang sejuk.

Anton menghela napas, "Gila, sahur tadi kayak adegan film laga!"

Farhan mengangguk, "Iya, tapi seru. Nggak nyangka Ramadhan udah mau selesai."

Rudi tersenyum sambil melihat langit yang mulai terang, "Betul. Meskipun kita sering bercanda, Ramadhan ini ngasih banyak pelajaran. Kita belajar sabar, berbagi, dan yang paling penting, menikmati momen bareng sahabat."

Anton setuju, "Setuju! Nggak peduli makan enak atau nggak, yang penting kita jalani dengan ikhlas."

Farhan menghela napas panjang, "Tapi jujur, gue kangen ayam goreng Bu Siti!"

Rudi dan Anton spontan tertawa, "HAHAHAHA!"

Ramadhan bukan hanya tentang menahan lapar dan haus, tapi juga tentang kebersamaan, kesabaran, dan menikmati setiap momen yang diberikan. Meski penuh tantangan, di situlah keindahannya.


Penulis : Siti Qummariyah